KEJAHATAN PERANG ISRAEL TERHADAP PALESTINA

KATA PENGANTA

Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan judul  Artikel Kejahatan Perang Israel Terhadap Palestina

 

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah. Dalam makalah ini membahas tentang Artikel Kejahatan Perang Israel Terhadap Palestina

 

.Akhirnya saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi diri saya sendiri dan khususnya pembaca pada umumnya. Tak ada gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat saya harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

 

 

 

 

 

                                                                                                            Penulis

                                                                                                            sudir

 

 

KEJAHATAN PERANG ISRAEL TERHADAP PALESTINA

Kasus Posisi

Penegakan hukum pidana internasional berkaitan dengan hukum Humaniter berkaitan pengunaan senjata kimia terlarang yang dilakukan oleh Israel dan intervensi-intervensi asing dalam penyelenggaraan perperangan.

 Rumusan Masalah

Ketidakadilan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina pada perang perbatasan dijalur Gaza yang mengakibatkan banyak korban jiwa (sipil & angkatan bersenjata). Banyak anak kecil dan wanita yang meninggal, apakah mereka combantan?

Bagaimana pengunaan white-phosphorus (fosfor putih) yang termasuk senjata yang dilarang oleh Konvensi Pelarangan Menyeluruh Senjata Kimia (KPMSK). Pada tanggal 13 Januari 1993 diadakan penandatanganan KPMSK di Paris, di mana 130 negara menandatanganinya termasuk Israel?

Analisis Kasus

Hukum humaniter internasional memiliki sejarah yang singkat namun penuh peristiwa. Baru pada pertengahan abad XIX, Negara-Negara melakukan kesepakatan tentang peraturan-peraturan internasional untuk menghindari penderitaan yang semestinya akibat perang peraturan-peraturan dalam suatu Konvensi yang mereka setuju sendiri untuk mematuhinya. Sejak saat itu, perubahan sifat pertikaian bersenjata dan daya merusak persenjataan modern menyadarkan perlunya banyak perbaikan dan perluasan hukum humaniter melalui negosiasi panjang yang membutuhkan kesabaran.

Lembar Fakta ini menelusuri perkembangan hukum humaniter internasional dan memberi gambaran terkini tentang ruang lingkup dan pengertian hukum humaniter internasional bagi tentara maupun masyarakat sipil yang terperangkap dalam pertikaian bersenjata.

Pertama-tama, dibutuhkan suatu definisi. Apa arti hukum humaniter internasional? Kerangka hukum ini dapat diartikan sebagai prinsip dan peraturan yang memberi batasan terhadap penggunaan kekerasan pada saat pertikaian bersenjata. Tujuannya adalah:

• memberi perlindungan pada seseorang yang tidak, atau tidak lagi, terlibat secara langsung dalam pertikaiann – orang yang terluka, terdampar, tawanan perang dan penduduk sipil;

• membatasi dampak kekerasan dalam pertempuran demi mencapai tujuan perang.

Perkembangan hukum internasional yang berhubungan dengan perlindungan bagi korban perang dan dengan hukum tentang perang sangat dipengaruhi oleh perkembangan hukum perlindungan hak asasi manusia setelah Perang Dunia Kedua. Penetapan instrumen internasional yang penting dalam bidang hak asasi manusia – seperti DUHAM (1948), Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia (1950) dan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (1966) memberikan sumbangan untuk memperkuat pandangan bahwa semua orang berhak menikmati hak asasi manusia, baik dalam keadaan damai maupun perang.

Selama keadaan perang atau keadaan darurat berlangsung, pemenuhan hak asasi tertentu mungkin dibatasi berdasarkan kondisi-kondisi tertentu. Pasal 4 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik mengijinkan Negara melakukan upaya-upaya yang bersifat sementara mengabaikan beberapa kewajiban Negara berdasarkan Kovenan “ketika terjadi keadaan darurat yang mengancam keselamatan bangsa,“ tapi hanya “sejauh yang sangat dibutuhkan oleh keadaan yang bersifat darurat.” Pasal 15 Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia berisi aturan yang sama. Secara berkala, Sub-Komisi Pencegahan Diskriminasi dan Perlindungan bagi Kaum Minoritas melakukan pembahasan tentang Negara dalam keadaan darurat dan penghormatan hak asasi manusia dalam situasi demikian.

Namun, kebutuhan agar hak asasi manusia tetap terjaga walaupun dalam waktu perang telah mendapat pengakuan sepenuhnya; Pasal 3 dari empat Konvensi Jenewa tentang hukum humaniter 1949 menyatakan bahwa pada masa pertikaian bersenjata seseorang yang dilindungi konvensi “dalam kondisi apapun diperlakukan secara manusiawi, tanpa pembedaan yang merugikan berdasarkan ras, warna kulit, agama atau kepercayaan, jenis kelamin, keturunan atau kekayaan, atau kriteria sejenis lainnya.”

Dalam sidang ke-43 Sub-Komisi Pencegahan Diskriminasi dan Perlindungan bagi Kaum Minoritas (5-30 Agustus 1991), sebuah laporan dari Sekretaris Jenderal tentang pendidikan sehubungan dengan penghormatan terhadap hak asasi manusia saat terjadi pertikaian bersenjata, disajikan dalam Bagian 4 dari ketentuan agenda (E/CN.4/Sub.2/1991/5). Dua tahun sebelumnya Sub-Komisi menetapkan resolusi 1989/24 tentang “Hak Asasi Manusia pada Masa Pertikaian Bersenjata.

Resolusi No. 1990/60 yang mengakui peran penting Komite Palang Merah Internasional dalam menyebarkan hukum humaniter internasional dan mengajak Negara-negara untuk memberi perhatian khusus pada pendidikan bagi semua anggota keamanan dan militer lainnya, dan semua badan penegak hukum, mengenai hukum internasional tentang hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional yang berlaku ketika terjadi pertikaian bersenjata.

Tiga arus utama memberi kontribusi terhadap penyusunan hukum humaniter internasional. Ketiga arus itu adalah “Hukum Jenewa,” diberikan oleh Konvensi dan Protokol internasional yang terbentuk berdasarkan sponsor Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dengan perhatian utama pada perlindungan korban pertikaian; “Hukum Den Haag,” berdasarkan hasil Konperensi Perdamaian di ibu kota Belanda pada 1899 dan 1907, yang pada prinsipnya mengatur sarana dan metode perang yang diizinkan; dan usaha-usaha PBB menjamin penghormatan hak asasi manusia pada pertikaian bersenjata dan membatasi penggunaan senjata-senjata tertentu.

Dunia mengecam atas perbuatan yang dilakukan oleh Israel yang memakan korban yang besar. “Angkatan Darat Israel menyebutkan jumlah korban tewas Palestina selama serangannya terhadap daerah kantung yang dikuasai HAMAS itu sebanyak 1.166 tewas, 295 di antara mereka warga sipil, sementara pihak Palestina menyatakan 1.417 orang tewas, 926 warga sipil”. [1]

 

Bukankah ada banyak selisih yang terjadi pada jumlah korban sipil yang nilainya hampir mendekati 1.000 orang yang tewas dan belum yang luka-luka bahkan cacat seumur hidup. Diantara serangan Israel yang membantai banyak anak kecil dan perempuan, kejahatan perang paling jahat adalah penggunaan white phosphorus yang sangat mengerikan dan dilarang oleh dunia karena senjata kimia itu bukan saja mampu membunuh dengan cepat namun menimbulkan siksaan yang sangat mengerikan.

Terdapat sebuah artikel yang mampu menjelaskan lebih detail terkait penggunaan fosfor putih (white phosphorus) sebagai berikut :

“Dalam sistem periodik, fosfor berada pada perioda ke-3. Fosfor memiliki beberapa bentuk alotrop diantaranya adalah fosfor merah, fosfor putih dan hitam. Fosfor putih bentuknya lunak, titik lelehnya rendah dan kadang – kadang berwarna kekuning-kuningan sehingga sering disebut sebagai fosfor kuning. Fosfor putih sangat reaktif dan beracun. Fosfor putih terbakar ketika bersentuhan dengan udara dan dapat berubah menjadi fosfor merah ketika terkena panas atau cahaya. Fosfor putih juga dapat berada dalam keadaan alfa dan beta yang dipisahkan oleh suhu transisi -3,8°C. Fosfor merah kurang reaktif (lebih stabil) dan relatif tidak beracun serta menyublim pada 170°C pada tekanan uap 1 atm, tetapi terbakar akibat tumbukan atau gesekan Fosfor hitam mirip dengan grafit. Fosfor ini dapat dibuat dengan memanaskan fosfor putih pada tekanan tinggi. Fosfor hitam tidak stabil dan pada pemanasan 550oC berubah menjadi fosfor merah. Alotrop fosfor hitam mempunyai struktur seperti grafit atom-atom tersusun dalam lapisan-lapisan heksagonal yang menghantarkan listrik. Dalam dunia militer, fosfor putih (white phosphorus), dikenal dengan sebutan Willy Pete. Bahan kimia ini digunakan untuk menandai dan menyamarkan serta dapat difungsikan sebagai senjata pembakar. Serbuk ini digunakan untuk menghancurkan senjata lawan atau memperpendek jarak pandang musuh. Jika digunakan untuk menyamarkan, fosfor putih dicampur dengan material lain sehingga mudah terbakar serta mengeluarkan asap tebal berwarna putih.” [2]

 

 

Dalam artikel diatas telah jelas dipaparkan bahwa senjata ini bukan hanya akan menimbulkan suatu efek kematian tapi juga penyiksaan karena sebelum terjadinya kematian , korban harus merasakan kesakitan luar biasa akibat panas yang di timbulkan ketika mengenai kulit maupun terhirup sampai membakar paru-paru.

Oleh karena itu seharusnya Negara-negara di dunia wajib menuntut keadilan atas perbuatan yang dilakukan oleh Israel karena pelanggaran atas penggunaan senjata terlarang dan penyiksaan itu telah di atur pada :

  • Undang-undang ratifikasi Convention on the Prohibition of the Development, Production, Stockpiling and Use of Chemical Weapons and on their Destruction (Konvensi tentang Pelarangan Pengembangan, Produksi, Penimbunan, dan Penggunaan Senjata Kimia serta tentang Pemusnahannya) No 6 tahun 1998.
  • konvensi DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) dan Konvenan Internasional. “… menghormati pasal 5 DUHAM dan pasal 7 kovenan Internasional tentang Hak sipil & politik . Larangan terhadap penyiksaan bersifat mutlak sehingga semua negara wajib mengambil tindakan legislative, administrative, yudisial atau tindakan lainya yang efektif untuk memastikan pencegahan penyiksaan [3]

Banyak sekali para wartawan dari manca Negara yang meliput kejahatan yang dilakukan oleh Israel di sepanjang jalur gaza mulai bulan desember 2008 sampai bulan januari 2009 dengan fakta.

Bahwah Israel terbukti telah menggunakan fosfor putih yang tlah dilarang dunia sebagai senjata kimia yang harus dimusnahkan dan tidak boleh dipergunakan.Dan lihat bagaimana tentara Israel memperlakukan anak balita yang mungkin baru bias berjalan dengan mengacungkan senjata M-16 kearah kepala bocah kecil tak berdosa itu? Sekarang lihatlah para warga Palestina yang tertindas, apakah mereka tampak seperti combatan? Dan pantaskah mereka diperlakukan seperti itu?

Sekarang lihatlah seorang ayah yang melindungi anaknya dari hujan peluru pasukan bersenjata Israel yang terekam oleh kamera. Apakah mereka combatan? Apakah mereka bersenjata mematikan?

Banyak sekali bukti-bukti yang dimiliki media untuk menunjukan kekejaman dan pelanggaran berat Pidana Internasional juga melanggar hak asasi paling utama yaitu kehidupan. Sampai detik ini belum ada upaya yang berarti yang mampu diperlihatkan oleh PBB sebagai Lembaga Internasional yang memiliki misi utama menjaga perdamaian dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan dan Saran

Israel telah melakukan kejahatan perang (war crime) dan termasuk kejahatan pidana berat internasional yang telah di kecam oleh seluruh Negara yang tergabung dalam PBB. Kenyataan sampai saat ini pelanggaran atas konvensi-konvensi yang dibuat antar Negara bahkan melibatkan dunia internasional belum mampu memberi keadilan atas hukum internasional. Selalu Negara-negara adidaya yang mampu menguasai dan mempermainkan semua perjanjian baik tertulis ataupun kebiasaan internasional.

Saran dari saya adalah membuat suatu organisasi atau lembaga baru yang menghilangkan diskriminasi hak veto dan pemersatu Negara-negara berkembang juga Negara kecil agar mampu melawan Negara-negara maju dan besar sehingga mampu tercipta perdamaian dan menghapus mafia besar yang selalu membuat carut-marut yang terjadi di ranah internasional. Bahkan krisis ekonomi global yang terjadi akibat inflasi keuangan Amerika akibat biaya perang tidak akan pernah terjadi lagi. Pada intinya Negara-negara kecil harus bersatu dan berani melawan mafia hukum internasional.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.komnasham.go.id/portal/files/Lembar_Fakta_13_Hukum_Humaniter_Internasional_&_HAM.pdf

http://jupri.wordpress.com/2009/01/14/israel-gunakan-senjata-pemusnah-massal-fosfor-putih/

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=52678:pbb-israel-dan-palestina-lakukan-kejahatan-perang&catid=16:internasional&Itemid=29

http://beritasore.com/2009/11/06/pbb-serukan-pengusutan-kejahatan-perang-di-gaza/

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kejahatan_perang&action=edit

BUKU :

Rona K.M. Smith, dkk . Hukum HAM. PUSHAM UII. Yogyakarta: 2008

 

 

 

 

 

 

 

 


[2]  http://cafepojok.com/forum/index.php?s=6d7b2be8b1ec15c8c1809ba824881088 diakses pada 13.1.2010  14.12WIB

[3]  Rona K.M. Smith, dkk . Hukum HAM. PUSHAM UII. Yogyakarta: 2008. Hal : 155

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s